kalsemen liga super indonesia

Rank   Team Played W D L Goals Diff. Points
1 (1) ARE Arema 34  24  57:21  36  75 
2 (2) PER Persipura 34  18  13  62:32  30  67 
3 (3) PSB Persiba 34  15  10  44:31  13  54 
4 (5) PRB Persib 34  16  13  50:36  14  53 
5 (4) PRJ Persija 34  14  10  10  41:36  52 
6 (6) PSW Persiwa 34  15  14  57:56  50 
7 (7) PSP PSPS 34  14  14  42:37  48 
8 (8) SRI Sriwijaya FC 34  14  14  48:49  -1  48 
9 (11) PER Persijap 34  13  14  40:45  -5  46 
10 (9) PER Persema 34  13  15  43:52  -9  45 
11 (14) BFC Bontang FC 34  12  14  53:52  44 
12 (10) PER Persisam 34  12  14  38:41  -3  44 
13 (12) PSM PSM 34  12  15  31:46  -15  43 
14 (13) PER Persela 34  12  16  45:55  -10  42 
15 (16) PEL Pelita Jaya 34  10  15  42:53  -11  39 
16 (15) PER Persebaya 33  10  17  42:55  -13  36 
17 (17) PER Persik 33  15  38:55  -17  36 
18 (18) PER Persitara 34  20  36:57  -21  28 

2 Bulan Untuk Musim Depan

Sponsorship. Kata ini kini lebih sering menjadi perbincangan di lingkaran bobotoh setelah Persib Bandung sudah mulai berjalan mandiri tanpa disokong dana APBD kota bandung pada musin kompetisi 2009/2010. Datangnya konsorsium yang dijembatani wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, membuka jalan dari status amatir yang tertanam bertahun-tahun menjadi berstatus profesional. Maung Bandung mencatatkan diri sebagai klub eks perserikatan pertama yang berhasil merubah dirinya menjadi klub sepakbola yang dikelola secara full profesional.


Bagaimana kondisi keuangan Persib setelah musim pertama sebagai klub profesional ini?

Om Farhan sebagai wakil Direktur Utama dan juga perwakilan dari konsorsium mengakui, jika dilihat dari proyeksi keuangan, apa yang terjadi dimusim ini cukup membanggakan. Artinya, walau secara hitung-hitungan Persib masih mengalami defisit, namun angkanya masih diatas target.
“Konsorsium melihat perjalanan keuangan musim ini sebagai sebuah investasi jangka panjang, bukan hanya satu musim, dan apa yang sudah dicapai di tahun pertama ini bisa dibilang suatu pencapaian yang luar biasa,” ujar presenter kondang ini sesaat sebelum kick off Persib versus PSM.
Farhan lalu melanjutkan, bahwa dengan pencapaian ini, bukan tidak mungkin, dalam musim keduanya, Persib sudah dapat mencapai titik break even poin (balik modal) dan sudah mulai mengeruk keuntungan dari musim ketiga nanti. Salah satu faktor penting yang menentukan ini adalah sokongan dana dari para sponsor.
“Bisa dibilang, kiprah tim Persib musim depan sangat tergantung pada apa yang kita kerjakan dalam 2 bulan kedepan. Saat ini sudah ada sekitar 8 sponsor yang mengajukan proposal kepada kita, dan ini akan terus bertambah. Kita akan mempelajarinya, dan mudah-mudahan keputusan kita nantinya adalah yang terbaik,” jelasnya.
Persib membuka penawaran untuk 4 posisi di kostim pemain untuk 4 sponsor utama. Yaitu di bagian dada, lengan sebelah kiri, dan di belakang. Dan saat ini, 4 tempat itu memang menjadi rebutan para calon sponsor. Sedangkan sponsor lain juga akan dicari bentuk kerjasamanya. Ada beberapa space yang selama ini menjadi lahan promosi, diantaranya, apparel, banner pinggir lapang, bus, dan background interview spot.
Ditanya perihal jumlah nilai rupiah yang ditargetkan untuk musim depan, Farhan tersenyum lebar. “Tidak, bukan 20 miliar. Tapi yang jelas, jauh lebih tinggi dari itu,” katanya.
Menanggapi isu diincarnya Atep dan Gonzalez oleh Sriwijaya FC, Farhan tidak begitu khawatir. Ia yakin kedua pemain ini akan bertahan. Salah satu alasannya adalah kondisi keuangan Persib yang jauh lebih sehat daripada Sriwijaya FC. Persib bahkan akan menambah amunisi pemainnya dengan para pemain berkualitas yang melintang di Indonesia.
“Musim depan, saya memperkirakan klub-klub yang mempunyai keuangan sehat selain Persib yaitu, Arema Indonesia dan Pelita Jaya. Itu diluar klub papua,” ujarnya.
Satu hal yang disayangkan oleh Farhan adalah soal prestasi tim yang tidak membaik dibandingkan dengan musim lalu. Ia hanya mengangkat bahu dan melipat bibirnya.

sejarah persib

Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetball Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.
Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega didepan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan diluar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.
Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (Persebaya), MIVB (sekarang PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1933 meski kalah dari VIJ Jakarta.
BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub- klub yang bergabung kedalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.
Persib kembali masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1934, dan kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis.
Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang- orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken ( VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah- olah Persib merupakan perkumpulan “ kelas dua “. VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan- pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib dilakukan di pinggiran Bandung—ketika itu—seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang didalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan dipusat kota, UNI dan SIDOLIG.
Persib memenangkan “ perang dingin “ dan menjadi perkumpulan sepakbola satu- satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNU dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG ( kini Stadion Persib ), dan Lapangan SPARTA ( kini Stadion Siliwangi ). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.
Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi lam dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga diseluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.
Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.
Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar diberbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit- prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta.
Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda ( NICA ) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.
Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, decade 1950- an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah- pindah sekretariat. Walikota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R.Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame.
Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.
Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.
Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama.
Sebagai tim yang dikenal tangguh, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun senior. Sederet nama seperti Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Adjat Sudradjat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nuralim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib.




BIOGRAFI Eka Ramdani
00:16 |
Eka Ramdani, atau yang biasa dipanggil Ebol oleh teman-temannya, lahir di Purwakarta, 18 Juni 1984. Pemain PERSIB bernomor punggung 88 ini memiliki hobi yang cukup beragam, seperti outbond, main playstation, dan juga nge-band bersama teman-temannya. Bermain sepak bola merupakan salah satu hobi Eka. Sejak dulu, Eka kecil yang bercita-cita ingin menjadi polisi ini sering menonton pertandingan-pertandingan PERSIB yang disiarkan di televisi.
Yusuf Bachtiar dan Steven Gerrard merupakan sosok yang diidolakan oleh Eka kecil. Sejak itulah, keinginannya untuk menjadi pemain sepak bola profesional semakin besar. Eka kecil sangat ingin menjadi pesepakbola handal seperti tokoh idolanya, bahkan jika mungkin melebihinya.Untuk mewujudkan mimpinya sebagai 'pemain besar' dalam dunia persepakbolaan tanah air, Eka berlatih sepak bola di SSB UNI BANDUNG dari tahun 1997-2003. Kemudian pada tahun 2003, Eka memulai karir profesionalnya dengan memperkuat PERSIJATIM. Eka memperkuat tim andalan Jakarta Timur ini selama dua tahun. Hingga akhirnya ia memperkuat klub yang ia mimpikan sejak kecil, yaitu PERSIB BANDUNG semenjak tahun 2005 hingga sekarang. Pada Indonesian Super League (ISL) 2008, Ebol dipercaya oleh timnya untuk memegang band kapten Maung Bandung. Saat ini, Eka di kontrak profesional oleh Diadora dan Telkomsel dan Bambang Nurdiansyah merupakan pelatih yang difavoritkan oleh Eka.

Mengapa Eka memilih PERSIB? Jawabannya sudah jelas. Eka memang terlahir di tanah Pasundan. Darah biru bumi Pasundan mengalir di sekujur tubuhnya. Hal inilah yang serta merta mendorongnya untuk memilih klub yang ia banggakan sejak kecil. Selain itu, warna PERSIB yaitu putih dan biru, merupakan warna favorit pemain bernomor sepatu 39 ini. Bagi suami dari Ratna Puspa Kencana dan ayah dari Zaidan Arka Najwan Nashshar ini, PERSIB merupakan sebuah kehormatan yang setiap jengkal di lapangan harus ia perjuangkan..!!

Selain menyukai masakan Sunda, Eka juga memilih masakan khas Padang sebagai makanan favoritnya. Saat ini, selain berkarir di dunia Sepak Bola, Eka juga membuat www.ekaramdani.com atau yang biasa disebut ER. Di dalamnya terdapat sebuah unit usaha yang menjual produk-produk seperti t-shirt, jacket dll. Hal ini didorong dari keinginan Eka untuk tetap berkarya di bidang lain.




Persib Bandung

Persib Bandung

Full name
Persatuan Sepakbola
Indonesia Bandung
Nickname(s)
Maung Bandung[1], Pangeran Biru

Founded 1933

Ground
Stadion Siliwangi capacity = 40,000[1]

Chairman Umuh Muhtar

Manager Robby Darwis

League Indonesia Super League

2008-09
Super League 3rd






Home colours





Away colours


Persib (acronym for Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung) is an Indonesian soccer club located in Bandung, West Java. This team has achieved many prestigious awards since their involvement in the days of the Perserikatan competitions until Liga Indonesia today.

Homebase
Persib's home base were on the Si Jalak Harupat Stadium and the training ground was on SOR Persib Bandung.
Achievements
One of the most memorable achievements in the history of this club is when they became champions of the last Perserikatan competition in the 1993/1994 season. In the final match, the club with legendary players such as Sutiono Lamso and Robby Darwis won against PSM Makassar. Afterwards, Galatama and Perserikatan merged into Liga Indonesia (LI). In the first season of Liga Indonesia in 1994/1995, this team became champions when they defeated Petrokimia Putra Gresik in the finals. Persib was also one of Indonesian clubs which reached quarterfinal round of Asian Champions League.

Perserikatan
• 1933 Runner-up
• 1934 Runner-up
• 1936 Runner-up
• 1937 Winner
• 1950 Runner-up
• 1959 Runner-up
• 1961 Winner
• 1966 Runner-up
• 1983 Runner-up
• 1985 Runner-up
• 1986 Winner
• 1990 Winner
• 1993/1994 Winner
Liga Indonesia
• 1994/95 Winner
Performance in AFC competitions
• Asian Club Championship
1996: Quarterfinals
Current Squad
|} | width="1%" | |bgcolor="#FFFFFF" valign="top" width="48%"|
No. Position Player
{{Fs player|no=1 |nat=Indonesia|name=[[Dedi Heryanto]|pos=GK}}
2 DF
Edi Hafid

3 DF
Irwan Wijasmara

4 DF
Wildansyah

5 DF
Maman Abdurahman

7 MF
Atep

8 MF
Eka Ramdani

9 FW
Airlangga Sucipto

10 FW
Hilton Moreira

11 MF
Satoshi Otomo

12 MF
Gilang Angga

13 FW
Budi Sudarsono

| width="1%" | |bgcolor="#FFFFFF" valign="top" width="48%"|
No. Position Player
16 MF
Munadi

17 DF
Christian Rene

21 GK
Cecep Supriatna

24 MF
Hariono

26 DF
Aji Nurpijal

27 MF
Cucu Hidayat

30 DF
Nova Arianto

77 MF
Chandra Yusuf

81 GK
Markus Ririhina

99 FW
Christian "Mustafa" Gonzales

Team Officials
• Team Leader : Dada Rosada
• Team Manager : H. Umuh Muhtar
• Ass. Manager : Dedy Firmansyah
• Head Coach : Robby Darwis
• Coach Assistant : Yusuf Bachtiar
• Goalkeeper Coach : Anwar Sanusi
• Fitnes Coach : Entang Hermanu
• Physio : dr. Ia Kurnia
• Psychology : Drs. Hedy Wahyudi, M.Psi.
Crowds
Persib Bandung has a large fan base from West Java to Banten. Even now, Persib Bandung have the biggest supporters in Indonesia, they're known as "Bobotoh". The "Bobotoh" are organised into many fan clubs, the biggest is Viking Persib Club[1].
Sponsors
• Honda
• Sozzis
• Bank BTPN
• Corsa Motorcycle Tyre
• Yomart
• Evalube
• Diadora
External links
• Dunia Daring Bobotoh 'Persib Bandung Site'
• Bobotoh Persib Sejati
• Persib Bandung Official Web
• Viking Persib The Official' Site
• Persib Bandung Football Club Fans Site
• Bobotoh On The Net' Site
• Just Another Persib Fanatic' Site
• Bobotoh Persib The Official' Site
• Bobotoh Creative' Site

Laman